Selasa, 24 November 2009

ILMU BUDAYA DASAR

Pendahuluan

Ilmu Budaya Dasar (IBD) sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU), diberikan kepada mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta, bertujuan untuk mengembangkan daya tangkap, persepsi, penalaran, dan apresiasi mahasiswa terhadap lingkungan budaya. Ada dua hal yang menyebabkan pentingnya pembahasan materi itu, yaitu.

Pertama, tema-tema IBD merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang dialami dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, seperti tema-tema yang telah disusun oleh Konsorsium Antar Bidang yang meliputi cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan.

Kedua, pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuwan sering mengabaikan sikap dan perilaku moral. Banyak di antara ilmuwan yang menganggap bahwa aspek moral itu tidak penting. Menurutnya, aspek yang lebih penting daripada moral dalam suatu ilmu adalah ontologis dan epistemologis. Apabila hal itu yang terjadi, maka ia akan mengabaikan unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak peka terhadap perma­salahan moral. Untuk mengantisipasi hal itu, setiap sarjana dirasa perlu memahami aspek budaya.

Penyusunan buku ini disiapkan dalam beberapa aspek pokok.Mengingat tema IBD sangat luas, maka pembahasannya dilakukan dengan pendekatan multidisiplin ilmu pengetahuan, seperti budaya, filsafat, etika, dan agama. Mengingat begitu luasnya wawasan tema IBD. Dalam buku ini juga dilampirkan tulisan-tulisan ilmuwan yang berkiprah dalam masalah humaniora. Tulisan-tulisan itu bertujuan untuk pendalaman materi pokok IBD melalui pengembangan daya imajinasi dan apresiasi mahasiswa.

B. Ilmu Budaya Dasar

Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah salah satu komponen dari sejumlah matakuliah Dasar Umum (MKDU), sebagai matakuliah wajib yang menjadi kesatuan dengan matakuliah lain di Perguruan Tinggi.

Secara khusus MKDU bertujaun untuk menghasilkan warga negera sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut:

a. Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan memiliki intergritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan scbagai sarjana Indonesia.

b. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.

c. Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalah kehidupan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.

d. Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bcrmasyarakat dan secara bcrsama-sama mampu berperan serta meningkatkan kualitas-nya, maupun lingkungan alamiah dan secara bersama-sama berperan serta di dalam pelestariannya.

C. Pengertian Ilmu Budaya Dasar

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat membcrikan pengetahuan dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan.

Istilah IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities’. Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (fefined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan seseorang ‘akan bisa mcnjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian bisa dikatakan bahwa The Humanities berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar. manusia bisa menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu The Humanities di samping tidak mehinggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Kendatipun demikian, Ilmu Budaya Dasar (atau Basic Humanities) sebagai satu matakuliah tidaklah identik dengan The Humanities (yang disalin ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Pengetahuan Budaya).

Pengetahuan Budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pe­ngetahuan yang mencakup keahlian cabang ilmu (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini pun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kahlian lain, seperti seni sastra, seni tari, seni musik, seni rupa dan lain-lain. Sedang Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) sebagaimana dikemukakan di atas, adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Masalah-masalah ini dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), baik secara gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya ataupun dengan menggunakan masing-masing keahlian di dalam pengetahuan budaya (The Humanities). Dengan poerkataan lain, Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasa! dari ber­bagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

Dengan perkataan lain dapatlah dikatakan bahwa setelah mendapat matakuliah IBD ini, mahasiswa diharapkan memperlihatkan:

a. Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi di sekitarnya dan diluar lingkungannya, menelaah apa yang dikcrjakan sendiri dan mengapa.

b. Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidupnya sehari-hari.

c. Keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasakannya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggung jawab dan scbaliknya mcnolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.

D. Tujuan Ilmu Budaya Dasar (IBD).

Sebagaimana dikemukakan di atas, penyajian Ilmu Budaya Dasar (IBD) tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pe­ngetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikem-bftngkan untuk mengkaji msalah-masalah manusia dan kebudayaan, Dengan demikian jelas bahwa matakuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik seorang pakar dalam salah satu bidang keahlian (disiplin) yang termasuk. dalam pengetahuan budaya, akan tetapi Ilmu Budaya Dasar semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitar­nya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.

Dan bahwa dalam masyarakat yang berkabung semakin Cepat dan rumit ini, mahasiswa harus mcngalami pergeseran nilai-nilai yang , mungkin sekali dapat membuatnya masa bodoh atau putus asa, suatu sikap yang tidak selayaknya dimiliki oleh seorang terpelajar. Bagaimanapun juga, mahasiswa adalah orang-orang muda yang sedang mempelajari cara memberikan tanggapan dan penilaian terhadap apa saja yang terjadi atas dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya. Sudah barang tentu ia perlu dibimbing untuk menemukan cara terbaik yang sesuai dengan dirinya sendiri tanpa harus mengorbankan masyarakat dan alam sekitarnya. Secara tidak langsung Budaya Dasar akan membantu mereka untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Berpijak dari hal di atas, tujuan matakuliah Ilmu Budaya Dasar adalah untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan dengan kebudayaan, agar daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa dapat menjadi lebih halus. Untuk bidag menjangkau tujuan tersebut di atas, diharapkan Ilmu Budaya Dasar dapat:

a. Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.

b. Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tcntang masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan daya kritis mercka tcrhadap persoalan-persoalan yang mcnyangkut kedua hal tcrscbut.

c. Mcngusahakan agar mahasiswa sebagai caion pcmimpin bangsa dan ncgara, serta ahli dalatn bidang disiplin masing-masing, tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotaan disiplin yang ketat. Usaha ini tcrjadi karcna ruang lingkup pendidikan kita amat dan condong mem-buat manusia spcsialis yang berpandangan kurang luas. Matakuliah ini berusaha menambah kcmampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah dalam masyarakat lingkungan mereka khususnya dan masalah seria nilai-nilai umumnya tanpa terlalu terikat oleh disiplin mereka.

d. Mcngusahakan wahana komunikasi para akademisi, agar mercka lebih mampu bcrdialog satu sama lain. Dengan mcmiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan dapat lebih lancar berkomunikasi. Kalau cara berkomunikasi ini selanjutnya akan lebih memperlancar pclaksanaan pembangunan dalam bcrbagai bidang keahlian. Mcskipun spcsialisasi sangat penting, spcsialisasi yang terlalu sempit akan membuat dunia scorang mahasiswa/sarjana menjadi tcrlalu sempit. Masyarakat yang pcrcaya pada pentingnya modcrnisasi tidak akan dapat memanfaat-kan sccara penuh sarjana-sarjana demikian, scbab proses modcrnisasi mcmerlukan orang yang bcrpandangan luas.

Secara umum tujuan IBD adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya dapat diperluas. Jika diperinci, maka tujuan pengajaran llmu Budaya Dasar itu adalah:

1. Lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, scrta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut.

2. Mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk lebih mudah menyesuaikan diri.

3. Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat menghormati serta simpati pada nilai-nilai yang hidup pada masyarakat.

4. Mengembangkan daya kritis tcrhadap pcrsoalan kemanusiaan dan kebudayaan.

5. Memiliki latarbelakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia.

6. Menimbulkan minat untuk mendalaminya.

7. Mcndukung dan mcngcmbangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.

8. Tidak terjerumus kepada sifat kedaarahan dan pengkotakan disiplin ilmu.

9. Menambahkan kemampuan mahasiswa untuk mcnanggapi masalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh disiplin mereka.

10. Mempunyai kesamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak mengenai masalah kemanusiaan dan kebudayaan.

11. Terjalin interaksi antara cendekiawan yang berbeda keahlian agar lebih positif dan komunikatif.

12. Menjembatani para sarjana yang berbeda keahliannya dalam bertugas menghadapi masalah kemanusiaan dan budaya.

13. Memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh berbagai cendekiawan.

14. Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.

15. Agar mampu memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pendidikan.

Dari kerangka tujuan yang telah dikemukakan tersebut diatas, dua masalah pokok biasa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian matakuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD). Kedua masalah pokok tersebut ialah :

a. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya mcrupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapal didekati dengan menggunakan pe­ngetahuan budaya (The Humanities), baik dari segi masing-masing keah­lian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun sccara gabungan (anlar bidang) bcrbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.

b. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman.

Proses budaya sebagai kemapanan Emosional

Dari Basic Cultural , akan dapat diketahui kemapanan emosi dan sosialnya. Dan ini akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dengan adat kebiasaan hidupnya sehari-hari dalam interaksinya (pergaulan) dengan manusia lain, pengaruh lain yang ditimbulkan secara individu adalah ketrampilan yang diperoleh dari interaksi yang terjadi terus-menerus tersebut, sehingga bisa melekat pada diri individu itu selama-lamanya. Seperti bunyi pepatah “ Lain lading lain belalang-lain lubuk lain pula Ikannya “ artinya disuatu tempat akan beda cara dan kebiasaanya sehari-hari dengan tempat lain.

Bidang ilmu yang dibawanya kelak juga akan dipengaruhi oleh budaya dan adapt istiadat yang sudah melekat dalam dirinya.

Maka seringkali kita saksikan, sebuah perilaku sosial yang menyimpang dari adat kebiasaan yang lazim, Dan itu terjadi 1 orang dari 10 orang yang lain yang memiliki sikap yang berbeda. Namun kita tidak bisa menjustifikasi atau menghakimi tindakan dia salah, karena fenomena yang terjadi pada diri seseorang berasal dari kejadian yang ditimbulkan sebelumnya.

Sikap-sikap tersebut adalah :

1. Angkuh

2. Sombong

3. Mau menang Sendiri

4. Egois

5. Sektarian

6. Acuh tak acuh

Sikap-sikap tersebut akan terbawa pada saat mereka memiliki kepandaian atau pengetahuan, sehingga akan menjadi lain manakala ilmu tersebut digunakan pada hal-hal yang buruk.

Ada sementara orang yang mengatakan bahwa sikap yang berbeda akan membawa dampak kemajuan dalam hidupnya, tetapi dilain pihak ada yang mengatakan sebaliknya, yaitu membawa kehancuran dalam dirinya. Yang terbaik adalah keselarasan yaitu membentuk sikap yang selaras dan sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Dari perpaduan orang yang memiliki pribadi yang baik dan ilmu yang dimiliki, akan berguna bagi umat manusia.

Berkesenian dapat membentuk sikap dan pribadi yang baik, hal ini dapat dilakukan apabila seseorang memahami proses sebuah penciptaan karya seni, dimana dari awalnya ada proses : “ CIPTA – RASA – KARSA “

  1. CIPTA : Adalah sebuah proses perenungan yang dilakukan dengan kontemplasi, yang dalam hal ini didasarkan dari kedalaman ilmu seseorang dari olah batin, pengetahuan, wawasan serta ketajaman intuisi seseorang hingga tercipta sebuah karya seni.
  2. RASA : Setelah proses pertama selesai, maka selanjutnya dari hasil penciptaan hingga menghasilkan karya seni tersebut sebelum di edarkan atau diinformasikan pada orang lain, dirasakan terlebih dahulu oleh sang pembuatnya. Dari proses ini terjadi perpaduan antara pikiran dan perasaan sehingga terjadi dialog yang kemudian bisa memutuskan layak dan tidaknya karya ini ditampilkan.
  3. KARSA : setelah selesai dalam proses pengkombinasian tersebut, maka kemudian dilakukan proses tahapan terakhir yaitu mengkarsakan atau memvisualisasikan dalam bentuk gerakan, lukisan, tulisan atau bentuk lain yang diinginkan.

Proses – proses tahapan tersebut terjadi begitu cepat, tergantung dari kemampuan seseorang dalam memadukan segala potensi yang dimilikinya.

Kebudayaan

A. Pendahuluan

Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan atau keberlanjutan suatu bangsa. Lebih-lebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya. Dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Mencip­takan lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar kehidupan itu lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun lingkungan sosial budaya.

Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju perkembangan dunia, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia di dalam masyarakatnya.

Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masya­rakat adil dan makmur yang merata, materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila. Bahwa hakekat pembangunan Nasional adalah pembangunam manusia Indonesia seutuhnya dan pcmbangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia scbagai pusat intcraksi kcgiatan pcmbangunan spiritual maupun material. Pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya, dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Mahasa Esa.

Dewasa ini kita dihadapkan paling tidak kepada tiga masalah yang saling berkaitan, yaitu

1). Suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa, dengan latar belakang sosio budaya yang beraneka ragam. Kemajemukan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu diperlukan sikap yang mampu mengatasi ikata-ikatan primor­dial, yaitu kesukuan dan kedaerahan.

2). Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu nampak terjadinya pergeseran sistem nilai budaya, penyikapan yang berubah pada anggota masyarakat tcrhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kclompok masyarakat. Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa.

3). Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, yang membawa pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antar suku maupun dengan kebudayaan dari luar. Khusus dengan terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing itu bukan hanya itensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya bcrlangsung dengan cepat dan luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendiri sebagai bangsa.

Untuk itulah, kepada lulusan Perguruan Tinggi perlu di bekali pengetahuan yang dapat mengembangkan kepribadiannya dan agar memiliki sikap hidup yang halus dan terbuka.

E. Pengertian Kebudayaan

Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Pada sisi yang agak berbeda,

Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupanan masyarakat.

Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:

7. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia, yang meliputi:

a. kebudayaan materiil (bersifat jasmaniah), yang meliputi benda-benda ciptaan manusia, misalnya kendaraan, alat rumah tangga, dan lain-lain.

b. Kebudayaan non-materiil (bersifat rohaniah), yaitu semua hal yang tidak dapat dilihat dan diraba, misalnya agama, bahasa, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

8. Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif (biologis), melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar.

9. Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat kemungkinannya sangat kecil untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya, tanpa kebudayaan tidak mungkin manusia (secara individual maupun kelompok) dapat mempertahankan kehidupannya. Jadi, kebudayaan adalah hampir semua tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

C. Unsur-Unsur Kebudayaan

Unsur-unsur kebudayaan meliputi semua kebudayaan yang ada dunia, baik yang kecil, sedang, besar, maupun yang kompleks. Menurut konsepnya Malinowski, kebudayaan di dunia ini mempunyai tujuh unsur universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian .Seluruh unsur itu saling terkait antara yang satu dengan yang lain dan tidak bisa dipisahkan.

D. Sistem Budaya dan Sistem Sosial

Sistem sosial dan sistem budaya merupakan bagian dari kerangka budaya. Ketiga sistem tersebut secara analisis dapat dibedakan. Sistem sosial lebih banyak dibahas oleh ilmu sosiologi, sementara itu sistem budaya banyak dikaji dalam ilmu budaya.Sistem diartikan sebagai kumpulan bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Sistem mempunyai sepuluh ciri, yaitu:

1. fungsi,

2. satuan,

3. batasan,

4. bentuk,

5. lingkungan,

6. hubungan,

7. proses,

8. masukan,

9. keluaran, dan

10. pertukaran.

Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya a tau kultural sistem merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan dan menjadi suatu sistem. Dengan demikian, sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan yang diartikan pula adat-istiadat. Adat-istiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, norma-norma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan, termasuk norma agama.

Fungsi sistem budaya adalah menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia. Proses belajar dari sistem budaya ini dilakukan melalui proses pembudayaan atau institutionalization (pelembagaan). Dalam proses ini, individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini dimulai sejak kecil, dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, mula-mula meniru berbagai macam ilmu n. Setelah itu menjadi pola yang mantap, dan mengatur apa yang dimilikinya.

Sedangkan, sistem sosial pertama kali diperkenalkan oleh Talcott Parsons. Konsep struktur sosial digunakan untuk menganalisis aktivitas sosial sehingga sistem sosial menjadi model analisis terhadap organisasi sosial.

Konsep sistem sosial adalah alat bantu untuk menjelaskan tentang kelompok-kelompok manusia. Model ini bertitik tolak dari pandangan bahwa kelompok manusia merupakan suatu sistem.

Parsons menyusun strategi untuk menganalisis fungsional yang meliputi semua sistem sosial, termasuk hubungan berdua, kelompok kecil, keluarga, organisasi sosial, termasuk masyarakat secara keseluruhan. terdapat empat unsur dalam sistem sosial, yaitu:

(1) dua orang atau lebih,

(2) terjadi interaksi di antara mereka,

(3) interaksi yang dilakukan selalu bertujuan, dan

(4) memiliki struktur, simbol, dan harapan-harapan bersama yang dipedomaninya.

Lebih lanjut, suatu sistem sosial akan dapat berfungsi apabila empat persyaratan di bawah ini terpenuhi. Keempat persyaratan itu meliputi:

1. Adaptasi, menunjuk pada keharusan bagi sistem-sistem sosial untuk menghadapi lingkungannya.

2. Mencapai tujuan, merupakan persyaratan fungsional bahwa tindakan itu diarahkan pada tujuan-tujuannya.

3. Integrasi, merupakan persyaratan yang berhubungan dengan interelasi antara para anggota dalam sistem sosial.

4. Pemeliharaan pola-pola tersembunyi, merupakan konsep latent (tersembunyi) pada titik berhentinya suatu interaksi akibat kejenuhan sehingga tunduk pada sistem sosial lainnya yang mungkin terlibat.

Lebih lanjut, Parsons menjelaskan bahwa dalam suatu sistem sosial terdapat 10 unsur yang membentuk kesempurnaan suatu” sistem. Kesepuluh unsur itu, yaitu:

(1) keyakinan,

(2) perasaan,

(3) tujuan—sasaran—cita-cita,

(4) norma,

(5) kedudukan peranan,

(6) tingkatan,

(7) kekuasaan atau pengaruh,

(8) sanksi,

(9) sarana atau fasilitas, dan

(10) tekanan ketegangan.

E. Makna Sosial

Manusia adalah makhluk sosial yang dapat bergaul dengan dirinya sendiri, dan orang lain menafsirkan makna-makna obyek-obyek di alam kesadarannya dan memutuskannya bagaimana ia bertindak secara berarti sesuai dengan penafsiran itu. Bahkan seseorang melakukan sesuatu karena peran sosialnya atau karena kelas sosialnya atau karena sejarah hidupnya. Tingkah laku manusia memiliki aspek-aspek pokok penting sebagai berikut : A2

(1) Manusia selalu bertindak sesuai dengan makna barang-barang (semua yang ditemui dan dialami, semua unsur kehidupan di dunia ini);

(2) Makna dari suatu barang itu selalu timbul dari hasil interaksi di antara orang seorang;

(3) Manusia selalu menafsirkan makna barang-barang tersebut sebelum dia bisa bertindak sesuai dengan makna barang-barang tersebut. Atas dasar aspek-aspek pokok tersebut di atas, interaksi manusia bukan hasil sebab-sebab dari luar. Hubungan interaksi manusia memberikan bentuk pada tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari, bergaul saling mempengaruhi. Mempertimbangkan tindakan orang lain perlu sekali, bila mau membentuk tindakan sendiri.

Menurut Blumer dalam premisnya menyebutkan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain dan disempurnakan pada saat proses interaksi sosial berlangsung.

Makna dari sesuatu berasal dari cara-cara orang atau aktor bertindak terhadap sesuatu dengan memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan dan mentransformasikan situasi di mana dia ditempatkan dan arah tindakannya.

F. Perubahan Sosial

Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Perubahan itu bisa dalam arti sempit , luas, cepat atau lambat. Perubahan dalam masyarakat pada prinsipnya merupakan proses terus-menerus untuk menuju masyarakat maju atau berkembang, pada perubahan sosial maupun perubahan kebudayaan.

Menurut Moore dalam karya Lauer, perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan penting dalam struktur sosial . Yang dimaksud struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial. Perubahan sosial mencakup seluruh aspek kehidupan sosial, karena seluruh aspek kehidupan sosial itu terus menerus berubah, hanya tingkat perubahannya yang berbeda.

Himes dan More mengemukakan tiga dimensi perubahan sosial :

(1) Dimensi structural dari perubahan sosial mengacu kepada perubahan dalam bentuk struktur masyarakat menyangkut perubahan peran, munculnya peranan baru, perubahan dalam struktur kelas sosial dan perubahan dalam lembaga sosial;

(2) Perubahan sosial dalam dimensi cultural mengacu kepada perubahan kebudayaan dalam masyarakat seperti adanya penemuan dalam berpikir (ilmu pengetahuan), pembaharuan hasil teknologi, kontak dengan kebudayaan lain yang menyebabkan terjadinya difusi dan peminjaman kebudayaan;

(3) Perubahan sosial dalam dimensi interaksional mengacu kepada perubahan hubungan sosial dalam masyarakat yang berkenaan dengan perubahan dalam frekuensi, jarak sosial, saluran, aturan-aturan atau pola-pola dan bentuk hubungan.

G. Konsep Nilai

Batasan nilai bisa mengacu pada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, dalam Sulaeman, 1998). Rumusan di atas apabila diperluas meliputi seluruh perkem-bangan dan kemungkinan unsur-unsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin kajian ilmu. Di bagian lain, Pepper mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Sementara itu, Perry (dalam Sulaeman, 1998) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek.

Ketiga rumusan nilai di atas, dapat diringkas menjadi segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.

Seseorang dalam melakukan sesuatu terlebih dahulu mempertimbangkan nilai. Dengan kata lain, mempertimbangkan untuk melakukan pilihan tentang nilai baik dan buruk adalah suatu keabsahan. Jika seseorang tidak melakukan pilihannya tentang nilai, maka orang lain atau kekuatan luar akan menetapkan pilihan nilai nnluk dirinya.

Seseorang dalam melakukan pertimbangan nilai bisa bersifat subyektif dan bisa juga bersifat objektif. Pertimbangan nilai subjektif tcnlapat dalam alam pikiran manusia dan bergantung pada orang yang memberi pertimbangan itu. Sedangkan pertimbangan objektif beranggapan bahwa nilai-nilai itu terdapat tingkatan-tingkatan sampai pada tingkat tertinggi, yaitu pada nilai fundamental yang mencerminkan universalitas kondisi fisik, psikologi sosial, menyangkut keperluan setiap manusia di mana saja.

Dalam kajian filsafat, terdapat prinsip-prinsip untuk pemilihan nilai, yaitu sebagai berikut.

1.nilai instrinsik harus mendapat prioritas pertama daripada nilai ekstrinsik. Sesuatu yang berharga instrinsik, yaitu yang baik dari dalam dirinya sendiri dan bukan karena menghasilkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berharga secara ekstrinsik, yaitu sesuatu yang bernilai baik karena sesuatu hal dari luar. Jika sesuatu itu merupakan sarana untuk mendapat sesuatu yang lain. Semua benda yang bisa digunakan untuk aktivitas mem-punyai nilai ekstrinsik.

2.nilai ini tidak harus terpisah. Suatu benda dapat bernilai instrinsik dan ekstrinsik. Contoh pengetahuan, mempunyai nilai instrinsik baik dari dirinya sendiri dan mempunyai nilai ekstrinsik apabila digunakan untuk kepentingan pembangunan baik di bidang ekonomi, politik, hukum, maupun bidang-bidang yang lainnya.

3.nilai yang produktif secara permanen didahulukan daripada nilai yang produktif kurang permanen. Beberapa nilai, seperti nilai ekonomi akan habis dalam aktivitas kehidupan. Sedangkan nilai persahabatan akan bertambah jika dipergunakan untuk membagi nilai akal dan jiwa bersama orang lain. Oleh karena itu, nilai persahabatan harus didahulukan daripada nilai ekonomi.

H. Sistem Nilai

Sistem nilai adalah nilai inti (core value) dari masyarakat. Nilai inti ini diakui dan dijunjung tinggi oleh setiap manusia di dunia untuk berperilaku. Sistem nilai ini menunjukkan tata-tertib hubungan timbal balik yang ada di dalam masyarakat. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia (Koentjaraningrat, 1981). Sistem nilai budaya ini telah melekat dengan kuatnya dalam jiwa setiap anggota masyarakat sehingga sulit diganti atau diubah dalam waktu yang singkat. Sistem budaya ini menyangkut masalah-masalah pokok bagi kehidupan manusia.

Sistem nilai budaya ini berupa abstraksi yang tidak mungkin sama persis untuk setiap kelompok masyarakat. Mungkin saja nilai-nilai itu dapat berbeda atau bahkan bertentangan, hanya saja orien-tasi nilai budayanya akan bersifat universal, sebagaimana Kluckhohn (1950) sebutkan.

Menurut Kluckhohn, sistem nilai budaya dalam masyarakat di mana pun di dunia ini, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

4. Hakikat hidup manusia. Hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstrim. Ada yang berusaha untuk memadamkam hidup (nirvana = meniup habis). Ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai sesuatu hal yang baik (mengisi hidup).

5. Hakikat karya manusia. Setiap manusia pada hakikatnya berbeda-beda, di antaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

6. Hakikat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda. Ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau yang akan datang.

7. Hakikat alam manusia. Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.

8. Hakikat hubungan manusia. Dalam hal ini ada yang memen­tingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horisontal maupun secara vertikal kepada tokoh-tokoh. Ada pula yang berpandangan individualist’s (menilai tinggi kekuatan sendiri).

Berdasarkan hasil suatu penelitian, ada tiga pandangan dasar tentang makna hidup, yaitu:

(1) hidup untuk bekerja,

(2) hidup untuk beramal, berbakti, dan

(3) hidup untuk bersenang-senang.

Sedangkan makna kerja, yaitu:

(1) untuk mencari nafkah,

(2) untuk memper-tahankan hidup,

(3) untuk kehormatan,

(4) untuk kepuasan dan kesenangan, dan

(5) untuk amal ibadah.

I. Perubahan Kebudayaan

Masyarakat dan kebudayaan di mana pun selalu dalam keadaan berubah, ada dua sebab perubahan

1. Sebab yang berasal dari masyarakat dan lingkungannya sendiri,misalnya perubahan jumlah dan komposisi

2. sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah secara lebih cepat.

3. adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.

Dalam masyarakat maju, perubahan kebudayaan biasanya terjadi melalui penemuan (discovery) dalam bentuk ciptaan baru (inovatiori) dan melalui proses difusi. Discovery merupakan jenis penemuan baru yang mengubah persepsi mengenai hakikat suatu gejala mengenai hubungan dua gejala atau lebih. Invention adalah suatu penciptaan bentuk baru yang berupa benda (pengetahuan) yang dilakukan melalui penciptaan dan didasarkan atas pengkom-binasian pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada mengenai benda dan gejala yang dimaksud.

Ada empat bentuk peristiwa perubahan kebudayaan. Pertama, cultural lag, yaitu perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Dengan kata lain, cultural lag dapat diartikan sebagai bentuk ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.

Kedua, cultural survival, yaitu suatu konsep untuk meng-gambarkan suatu praktik yang telah kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang tetap hidup, dan berlaku semata-mata hanya di atas landasan adat-istiadat semata-mata. Jadi, cultural survival adalah pengertian adanya suatu cara tradisional yang tak mengalami peru­bahan sejak dahulu hingga sekarang.

Ketiga, pertentangan kebudayaan (cultural conflict), yaitu proses pertentangan antara budaya yang satu dengan budaya yang lain.

Konflik budaya terjadi akibat terjadinya perbedaan kepercayaan atau keyakinan antara anggota kebudayaan yang satu dengan yang lainnya.

Keempat, guncangan kebudayaan (cultural shock), yaitu proses guncangan kebudayaan sebagai akibat terjadinya perpindahan secara tiba-tiba dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Ada empat tahap yang membentuk siklus cultural shock, yaitu: (1) tahap inkubasi, yaitu tahap pengenalan terhadap budaya baru, (2) tahap kritis, ditandai dengan suatu perasaan dendam; pada saat ini terjadi korban cultural shock, (3) tahap kesembuhan, yaitu proses melampaui tahap kedua, hidup dengan damai, dan (4) tahap penyesuaian diri; pada saat ini orang sudah membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakan dalam kondisi yang baru itu; sementara itu rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.

Konsepsi Budaya Dasar Dalam Berbagai Bidang Seni

* Kesusasteraan

1. Hakekat Puisi

Dipandang dari segi bangunan bentuknya pada umumnya puisi dianggap sebagai pemakaian atau pcnggunaan bahasa yang intensif; olch karena itu minimnya jumlah kosa kata yang digunakan dan padatnya struktur yang dimanipulasikan,namun justru karena itu berpengaruh kita dalam menggerakkan emosi pembaca karena gaya penuturan dan daya lukisnya. Bahasa puisi dikatakan lebih padat lebih indah, lebih cemerlang dan hidup (compressed, picturesque, vivid) daripada bahasa prosa atau percakapan sehari-hari.

Bahasa puisi mengandung penggunaan lambang-lambang metaforis dan bentuk-bentuk intutive yang lain untuk mengekspresikan gagasan, perasaaan dan emosi oleh karena puisi senantiasa menggapai secara eksklusif ke arah imajinasi dan ranah (domain) bentuk-bentuk emotif dan artistiknya sendiri.

Kepadatan bahasa puisi itu sebenarnya sangat berkaitan. Secara sinkron dan integratif dengan upaya sang penyair dalam memadatkan sejumlah pikiran, pcrasaan dan emosi serta pe-ngalaman hidup yang diungkapannya. Hal yang membedakan seorang pe­nyair dari pengarang prosa adalah karena kemampuannya dalam meng­ekspresikan hal-hal yang sangat besar dan luas dalam bentuk yang ringkas dan padat.

Dipandang dari segi isinya puisi yang bagus merupakan ekspresi yang paling benar (genuine expression) atas kcseluruhan kepri-badian manusia dan kerena itu ia dapat menyampaikan secara luar biasa keinsyafan pikiran dan hari manusia tehadap pcngalaman dan peristiwa kehidupan. Dengan demikian fenomen- budaya puisi itu tcrcipta dalam proses yang kira-kira bisa dibagankan sebagai bcrikut:

2. Penyajian Puisi dalam Pendidikan dan pengajaran di semua tingkatan

Penyajian puisi dalam rangka pendidikan dan pengajaran IBD bagi para mahasiswa disebabkan oleh watak pembawaan puisi yang secara tcoritis relevan bagi pengisian matcri pokok bahasan guna mencapai lujuan yang telah dilctapkan dalam GBPP (inti) yang hendak dikembangkan. Berdasarkan sejumlah pandangan yang terpilih dari para ahli dan kritikus sastra dapatlah dikatakan bahwa puisi bersifat koekstensif dengan “hidup” (W.J.G. race, 1965:5) yang berarti bcrdiri berdampingan dalam kedudukan yang sama dengan “hidup” sebagai pencerminan dan krilik atau interpretasi terhadap “hidup”.

Dalam pemikiran aslinya Dr. Smuel Johnson menyebutkan “general nature” sebagai obyck “percerminan”. Dalam hal ini puisi itu sendiri bukanlah sebuah cermin, dalam pengertian ia tidak semata-mata mereproduksi suatu bayangan alam (dan kehidupan), tetapi ia membuat alam itu direfleksikan di dalam bentuknya yang banyak berisi arti (Northrop Frye, 1957: 84).

Secara aktual apa yang dinyatakan oleh penyair dalam puisinya dapat merupakan analogi, koresponden atau mirip dengan alam lahir (external na­ture). Di sini “cermin” tidak semata-mata mereflcksikan alam lahir itu, oleh karena “alam” di sini juga mencakup inleligensi manusia, perasaanya dan cara atau aktivitas manusia itu melihat dirinya sendiri. Tendensi pandangan dalam kritik modern mengenai dalil “pencerminan” tersebut menganggap bahwa puisi sebagai suatu jenis karya scni merupakan “heterokosmos” yakni sebagai “alam kedua”. Dalam memandang sastra pada umumnya dan puisi pada khususnya sebagai pencerminan pengalaman, kita tidak akan berpikir bahwa sastra (puisi) sebagai penyajian norma-norma secara statistik.

Sebegitu jauh sastra/puisi di zaman angkatan Pujangga Baru (tahun 30-an) boleh disebut hanya mengenal atau cenderung kepada minoritas orang-orang berpendidikan menengah dan feodal sebagaimana sastra Eropa Barat di abad pertengahan yang hanya menyuarakan gerak hidupnya kaum bangsawan yang mencari kekuatannya pada tema-tema tertentu saja, misalnya cinta istana. Namun sastra/puisi Indonesia di kurun 1942 – 1945 mengumandangkan tuntutan masyarakat akan kemerdekaan dan di tahun 1960-an meneriakkan pemberontakan kepada kaum “tirani” dan “despot”. Sedangkan puisi-puisi Gunawan Muhammad atau Sapardi Joko Damono lebih banyak ber-sifat renungan pada pencarian nilai-nilai.

2.1. Hubungun puisi dengan pengalaman hidup manusia

Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra/puisi disebut “pengalaman perwakilan’ (vicarious experience, (1) D.L. Burton, 1964: 4, (2) M.E. Fowler, 1965: 219, (3) W.J. Grace, 1965: (4). lni bcrarti bahwa manusia senantiasa ingin mcmiliki salah satu kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbalas. Dengan ‘pengalaman per­wakilan” itu sastra/puisi dapat memberikan kepada mahasiswa memiliki kesadaran (insight – wawasan) yang penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan tentang masyarakat.

Dengan keseringan membaca dan mendiskusikan hasil karya sastra/puisi dengan bimbingan dosen yang bijaksana dan matang mcreka dapat berkembang untuk mengerti tidak saja terhadap diri mereka masing-masing dan hubungannya dengan masyarakat di mana mereka hidup, fctapi juga tcrhadap kcahlian dan kcarifan senimannya (the craft of the artist).

Pendekatan terhadap ‘pengalaman perwakilan’ ilu dapat dilaku-kan dengan suatu kemampuan yang disebut ‘imaginative entry’ (D.L. Burton, 1965: 1544), yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang diluangkan penyair dalam puisinya. Sebagai pemuda tcntulah mahasiswa itu pcrnah jatuh cinta, kebencian yang mendendam, keberanian memprotes, sakit hati dan penderitaan olch kesedihan, kctcrharuan dan kebanggaan olch dalang-nya suatu harapan yang membahagiakan. Dengan mengidentifikasi pengalaman-pengalaman itu mereka dapat memasuki pcngala-man dalam puisi dengan membaca dan mendiskusikannya, sehingga mcreka dapat mempcrluas ketahuannya terhadap dirinya dan terhadap orang lain.

Puisi mempunyai kekuatannya sendiri dalam memperluas pengalaman hidup aktual dengan jalan mengalur dan mensintesekannya. Pe­ngalaman yang melayani kebutuhan universal manusia untuk mem-pcrolch pelarian dan obat penaw.i’ dari beban kesibukan hidup yang rutin.

2.2 Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.

Dengan membaca puisi mahasiswa dapat diajak untuk dapat men-jenguk hati dan pikiran/kesadaran manusia, baik orang lian maupun diri sendiri. Hal ini sangat dimungkinkan oleh puisi itu sendiri, karcna mclalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia, ia mcnjclaskan pengalaman sctiap orang, yang bisa mengenai;

- topang yang dipakai orang dalam kehidupan yang nyata

- bcrbagai pcranan yang diperankan orang dalam mcnampilkan diri di dunia atau lingkungan masyarakatnya.

Adalah hak dan misi seorang penyair lewat puisinya untuk mem-buka tabir yang mcnulupi hali manusia dan membawa kita untuk melihat sedekat- dekatnya rahasia pikiran, pcrasaan dan impian manusia. Pada akhirnya puisi mempcrluas dacrah pcrscpsi kita memperlcbar dan mcmpcrdalam scrta menyempurnakan sensibilitas cmosionnal kila, kemampuan kita untuk mcrasakan, sehingga kila dibuatnya menjadi lebih sensitif, lebih rcsponsif danmejadi manusia yang lebih simpatik.

2.3. Puisi dan keinsyafan sosial.

Puisi juga membcrikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang tcrlibat dalam issue dan problema sosial. Sccara imajinatif puisi dapat menafsirkan sittuasi dasar manusia sosial, yang bisa bcrupa:

- penderitaan atas ketidak adilan

- perjuangan unluk kekuasaan.

- konfliknya dengan scsamanya

- pemberontakannya lerhadap hukum Tuhan atau hukum manusia sendiri.

2.4. Puisi dan nilai-niiai.

Dengan membcrikan pengarahan dna bimbingan yang tepat dalam proses membaca dan mendiskusikan puisi, mahasiswa akan men-jumpai nilai-nilai (value) yang bcrmanfaat bagi lingkungan hidupnnya. Ia akan membaca tcntang manusia laki-laki atau perempuan yang mungkin telah mengambil sikap tcrtcntu tcntang moral dan etika yang menjadi pilihannya.

Kata drama berasal dari kata Greek draien yang berarti to do, to act. Sementara itu kata teater berasal dari kata Greek the-atron yang berarti to see, to view. Perbedaan antara kedua istilah itu dapat dilihat pada pasangan ciri-ciri sebagai berikut ;

drama

teater

play : performance

script : production

text : staging

author : actor

creation : interpretation

theory : practice

(lihat Tennyson, 1967 : 1)

Dari perbandingan di atas kiranya nampak bahwa drama lebih me-rupakan lakon yang belum dipentaskan; atau skrip yang belum di-produksikan; atau teks yang belum dipanggungkan; atau hasil kreasi pengarang yang dalam batas-batas tertentu masih bersifat teoritis. Sementara itu teater lebih merupakan performansi dari la­kon; atau produksi dari skrip; atau pemanggungan dari teks; atau hasil interpretasi aktor dari kreasi pengarang yang dalam batas-ba­tas tertentu bersifat mempraktekkan.

Mengapresiasi drama sebagai sastra (terutama jika mengguna­kan pendekatan obyektif) tidak dapat dilepaskan dari memahami elemen-elemen atau unsur-unsur drama yakni : alur (plot) bahasa lakon (terutama dialog), dan tokoh (character). Namun hendaklah diingat bahwa ketiganya (plot, dialog dan character) bukanlah mo-nopoli drama, oleh karena prosa fiksi pun memiliki elemen-elemen tadi.

Tennyson misalnya mengatakan, “Plot is not unique in dra­ma : novels, short stories, and even some narrative poems have plot. However, it is most often thought of in connection with the drama and the novel.” (hal-13) Dialog juga bukan semata-mata milik drama, walaupun peranannya berbeda dengan yang ada pada prosa fiksi. “Dialogue therefore assumes a vastly more importent role in the drama than it does in the novel or in poetry” (Tenny­son, 1967 : 31). Akhirnya dalam hal tokoh dapat dikatakan seba­gai berikut : “In analyzing in a play, the student’s first concern is how character is revealed. It should be clear that a playwright has two tools for revealing character : dialogue and action” (Tennyson, 1967 : 45). Dari sini jelas bahwa perbedaan antara novelis dengan penulis la­kon dalam menyajikan tokoh, terletak pada alat yang digunakan. Penulis lakon menggunakan alat dialog dan aksi. Sementara itu novelis akan menggunakan alat dialog dan wacana narator (narra­tor’s discourse).

Dari apa yang telah disajikan di atas semakin jelaslah bahwa elemen-elemen drama dalam batas-batas tertentu terdapat juga di dalam prosa fiksi. Untuk memperkuat keyakinan ini baiklah diku-tipkan pendapat Stephen Minot dalam bukunya Three Genres (1965). Minot di antaranya menyebutkan bahwa : “All fiction has plot” (hal. 6); “All fiction has characters” (hal’,7) dan “Almost all fiction makes use of action and dialogue” (hal. 8).

4. PROSA FIKSI

Istilah prosa fiksi banyak padanannya. Kadang-kadang di sebut : narrative fiction, fictional narrative, prose fiction atau hanya fiction saja. Kata Latin fictionem dari kata fingere artinya menggambarkan atau menunjukkan. Dalam bahasa Indonesia istilah ta­di sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai “Bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai peme-ran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi” (Saad & Moeliono, I : 12). Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.

4.1 Nilai-nilai di dalam prosa fiksi

Yang dimaksud dengan nilai di sini adalah persepsi dan pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra (prosa fiksi). Hendaknya disadari bahwa tidak semua pembaca dapat mem-peroleh persepsi dan pengertian tersebut. Ini hanya dapat di­peroleh pembaca, apabila sastra menyentuh diririya. Nilai ter­sebut tidak akan diperoleh secara otomatis dari membaca. Dan hanya pembaca yang berhasil mendapat pengalaman sastra saja yang dapat merebut nilai-nilai dalam sastra.

(a). Prosa fiksi memberikan kesenangan

Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari mem­baca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana jika mengalaminya sendiri peristiwa atau keja-dian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imaginasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya, atau yang tak mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat menge­nal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai suatu sukses. Namun demikian tidak menutup kemung-kinan bahwa tempat atau tokoh dalam fiksi itu mirip dengan manusia manusia atau tempat-tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Kecuali keriikmatan literer, fiksi juga memberikan kesenangan yang berupa stimulasi intelektual. Ini datang dari adanya ide-ide, wawasan-wawasan, atau pemikiran-pemikitan yang baru, yang aneh, yang luar biasa, bahkan juga yang mungkin sangat membahayakan jika diungkap-kan bukan lewat sastra.

(b). Prosa fiksi memberikan informasi.

Fiksi memberikan aejenis informasi yang tidak terda-pat di dalam ensiplopedi. Jika kita memerlukan suatu fakta, maka kita dapat membuka buku. Tetapi jika kita menginginkan wawasan yang berbeda dari apa yang ada di dalam fakta, maka kita harus memilih sastra. Dari sas­tra mungkin kita akan mendapatkan nilai-nilai dari sesua-tu yang mungkin di luar perhatian kita. Dari novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidup-an masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang, atau kehidupan yang sama sekali asing. (Kita ingat misalnya Robinson Crusoe (Defoe) atau Perja­lanan ke Akhirat (Djamil Suherman).

Fiksi juga memberikan ide atau wawasan yang lebih dalam daripada sekedar fakta yang hanya bersifat meng-gambarkan. Dari fiksi dapat dipahami tentang kelemahan, ketakutan, keterasingan, atau hakekat manusia lebih dari­pada apa yang disajikan oleh buku-buku psikologi, sosio-logi, atau anthropologi.

Fiksi bersifat mendramatisasikan, bukan hanya seke­dar menerangkan seperti misalnya buku teks psikologi. Mendramatisasikan, berarti mengubah prinsip-prinsip abstrak menjadi suatu kehidupan atau lakuan/tindakan (action). Kita jadi ingat misalnya pada Ziarah (Iwan Si-matupang) yang merupakan dramatisasi atau fisikalisasi dari ide keterasingan kehidupan manusia, sebagaimana diperankan oleh profesor filsafat itu.

(c). Prosa fiksi memberikan warisan kultural.

Pelajaran sejarah dapat memberikan sebagian warisan kultural kepada mahasiswa; demikian pula dengan pelajar­an matematika, seni, dan musik. Para mahasiswa yang mempelajari bahasa dan sastra akan memperoleh kontak dengan : impian-impian, harapan-harapan, dan aspirasi-aspirasi, sebagai akar-akar dari kebudayaan. Prosa fiksi dapat menstimulai imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.

Novel-novel yang terkenal seperti : Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang mengungkapkan impi-an-impian, harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dari generasi yang terdahulu yang seharusnya dihayati oleh generasi kini. Bagi bangsa Indonesia novel-novel yang berlatar be-lakang perjuangan revolusi seperti Jalan Tak Ada Ujung, Perburuhan, jelas merupakan buku novel yang berarti, sementara kita menyadari bahwa revolusi itu sendiri ada-lah suatu tindakan heroisme yang mengagumkan dan memberikan kebanggaan, tetapi yang oleh para generasi muda sekarang tidak dialaminya secara fisik. Dan oleh ka-rena para mahasiswa sudah tidak lagi mengalami secara fisik itulah, jiwa kepahlawanan perlu disentuhkan lewat hasil-hasil sastra, bukan lewat rumusan-rumusan ajaran yang mungkin sudah sangat menjemukan atau sama sekali tidak menyentuh hati nuraninya.

(d). Prosa fiksi memberikan keseimbangan wawasan.

Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalamannya dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesem-patan untuk memilih respon-respon emosional atau rang-kaian aksi (action) yang mungkin sangat berbeda daripa-da apa yang disajikan oleh kehidupan sendiri. Rangkaian aksi itu sendiri mungkin tidak pernah ada dan tidak per-nah terjadi di dalam kehidupan faktual.

Di dalam bukunya An Introduction to Drama Ten­nyson mengatakan, “Aristotle concedes that the human action which is “imitated” may be action that never actu­ally occured in the form in which we see it. His only requirement is that it have a certain probability. Such pro­bability need not be restricted by what we call physical laws. It must have only coherence and likehood. Thus Aristotle defends the “probable impossibility” over the “porable impossibility.”

Adanya semacam kaidah kemungkinan yang tidak mungkin dalam fiksi inilah yang memungkinkan pembaca untuk dapat memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya tentang tokoh, hidup, dan kehidupan manu-sia. Dari banyak memperoleh pengalaman sastra, pemba­ca akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi kenyataan-kenyataan di luar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari pribadinya. Seorang dokter yang dianggap memiliki status sosial tinggi, tetapi ternyata mendatangi perempuan simpanannya walaupun dengan alasan-alasan psikologis, seperti dikisahkan novel Belenggu, adalah contoh dari “the probable impossibili­ty.” Tetapi justru dari sinilah pembaca memperluas per-spektifnya tentang kehidupan manusia.

Kesanggupan sastra (fiksi) untuk menembus pikiran d a n emosi seperti itu dapat memberikan impaknya yang luar biasa. Beberapa novel kadang-kadang menyaji-kan suatu wawasan atau pemikiran yang subtil, bahkan sampai kepada yang “gila” (Ingat beberapa novelet Putu Wijaya).

4.2 Aspek ekstrinsik prosa fiksi.

Faktor sejarah dan lingkungan seringkali dapat dibuktikan ada kaitannya dengan sebuah cipta sastra (fiksi). Dengan kata lain kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat atau ling­kungan itulah justru memiliki pengaruh yang kuat pada dicip-

* KONSEPSI BUDAYA DASAR DALAM SENI RUPA.

1. HAKEKAT SENI RUPA.

Keutuhan manusia sebagai pribadi dapat dimungkinkan melalui pemahaman, penghayatan dan meresapkan nilai-nilai yang ter-kandung dalam suatu karya seni rupa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi pi-kiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan pranata budaya untuk menyatakan rasa senitfya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif.

Dalam kegiatan apresiatif, yaitu mengadakan pendekatan ter­hadap seni rupa seolah-olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Seni rupa sebagai karya seni yang nampak rupa seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata. Maka itu kadang-kadang seni rupa itu disamakan dengan seni visual, yakni seni yang aktif itasnya erat sangkut pautnya dengan visi indrawi (mata) Tetapi sebenarnya seni rupa itu lebih dari yang hanya bersifat lahiriah semata, yakni lebih dalam lagi dan meliputi pula visi bathi-niah.

Seni rupa sebagai karya yang kasat mata, perwujudannya itu adalah merupakan wadah pembabaran idea yang bersifat bathiniah Dalam mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seluruh pancaindra kita, khususnya penglihatan, perabaan dan perimbangan kita terlibat dengan asyiknya terhadap bentuk seni rupa itu yang ter-diri dari aneka warna, garis, bidang, tekstur dan sebagainya yang bersifat lahiriah itu untuk seterusnya menguak alam kesadaran ji-wa kita untuk lebih jauh menghayati isi yang terbabar dalam karya seni rupa itu serta idea yang melatar belakangi kehadirannya.

Maka itu dalam mengadakan pendekatan terhadap karya seni rupa kita tidak cukup hanya bersimpati terhadap karya seni rupa itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara empati (empathy). Empati berasal dari kata Yunani yang berarti Tierasa di dalam, sedangkan simpati yang juga berasal dari kata Yunani- berarti merasa dengan. Jadi dalam menghayati suatu karya seni secara empati berarti kita menempatkan diri kita ke dalam karya seni itu.

“Seorang pribadi yang berempati orang ini mencobamelihat dunia dari makhluk manusia lain, melalui mata dari orang lain. Empati memerlukan keterlibatan, imajinasi, pengertian, identifika-si dan interaksi. Dengan faktor-faktor tersebut maka kualitas em­pati lebih meningkat”

Dengan kesediaan kita mempelajari suatu karya seni secara empati, yaitu mencoba memahami apa yang sebenarnya terbabar dalam karya seni itu, baik terhadap karya seni yang berasal dari jaman lampau maupun dari masa kini dari daerah yang sama atau berjauhan,berarti kita telah terbuka untuk memahaminya.

Memang, pada dasarnya manusia bersifat sukar memahami manusia lainnya, termasuk bersifat sukar menerima karya seni bentuk-bentuk asing. Pemahaman terhadap karya seni bentuk-ben-tuk asing seperti karya seni rupa prnnitif atau karya ami rupa ku-no, bahkan juga terhadap karya seni rupa modern tidaklah mudah, Satu syarat yang masih ditunlul olch scni modern yang bahkan mcrupakan ciri khasnya, ialah kreativitas. Dari scbuah pcrkataan ini tercan-lumlah becrapa sifat yang mcrupakan gejala-gcjalanya. Oleh karena itu uiiluk mcnghindarkanistilah modern yangbcrmuka banyak itu tadi, adayang cnamai seni modern itu dengan “seni kreatif”. (Socdarso S.P., 1971, hal. 2) Contoh, karya-karya seni rupa modern adalah karya-karya scniman : Paul Cczanc, Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Naum Gabo, An-toine Pevsner, Ozcnfant, Marinclti, Mari Utrillo, Max Chagal, Henry Moor, Kandinsky dan sebagainya. Di Indonesia kita mengcnal scniman pelukis dan pcmahal modern antara lain: Affandi, Popo Iskandar, Zaini, G. Sidharta, Klul, Cokot, Ida Bagus Nyana dan sedcretan scniman muda lainnya, baik dari angkatan Pcrsagi, Pita Maha dan kelompok atau periode lainnya.

Karya-karya mereka (sebagian) dipajang di becrapa lempat scperti :Balai Scni Rupa Pusat di Jakarta, Museum Affcndi di Yogyakarta, Museum bali di Dcnpasar, Museum Ralna Warta di Ubud (Bali), Pusat Kcsenian Bali di Dcnpasar, Museum Sctcja Neka di Ubud (Bali) dan di bebcrapa tempat kolcktor lainnya.

2. BEBERAPA GAYA, CORAK, ATAU ISME SENI RUPA.

Di muka telah di singgung, bahwa kclahiran karya-karya seni rupa yang berbeda-beda pada liap-liap jaman dikarcnakan masing-masing jaman itu mcmiliki aliran-aliran pikiran yang berbeda-beda. Masing-masing jaman mclahirkan karya-karya scni rupa dengan ciri-cirinya masing-masing. Ada kalanya pada satu jaman lahir aliran-aliran pikiran yang berbeda-beda, schingga melahirkanpula corak karya scni rupa yang berbeda.

Jadi yang dimaksud dengan gaya dalam seni rupa adalah corak atau ismc yang dikarcnakan aliran-aliran pikiran yang mendorong alau mclatar bclakangi kclahiran karya scni rupa itu.

Karena adanya perbedaan-pcrbedaan konscpsi pikiran dari masing-masing jaman, maka masing-masing jaman mclahirkan kcsenian yang mem-punyai ciri-ciri yang khusus. Adanya bcrmacam gaya, corak atau isme.itu mempunyai pesona-pesona sendiri yang khusus dan khas. Di samping itu, tiap-tiap aliran corak, gaya atau ismc itu mempunyai tujuan tcrtcntu atau fungsi sendiri-sendiri. Atau tiap-tiap aliran itu mempunyai cita-cita scni sen­diri, scsuai dengan pikuran jamannya.

Karena cila-cita scni ilu berbeda-beda, yang satu ke arah kemanusiaan, yang satunya kc arah kc Tuhanan dan sebagainya, maka karya-karya seni itu memperlihatkan wujud yang berbeda-beda. Namun demikian kescnian mempunyai aspek-aspek persamaan, Pada umumnya dapat dikatakan bahwa mutu suatu ciptaan terutama pada sifatnya yang khas, yang tak ada pada ciptaan lain untuk mencari karya yang khas, unik dan tidak ada duanya itu, maka orang menoleh ke masa seni primitif. Kesenian primitif kesederhanaannya menimbulkan kesan yang mengagumkan. Kesenian primitif tidak di buat atas dasar sadar artistik tctapi dibuat atas dasar sadar magis. Benda yang dibuat tidak ditujukan samasekali untuk benda seni yang menarik (artistik), tapi sebagai benda sakti. Contoh : patung-patung suku Asmat dari Irian sungguh menarik pesona seni orang-orang modern, meskipun karya-karya itu tidak memiliki keindahan menurut pesona seni klasik.

Kita sering keliru menilai suatu karya seni dan menilai tidak dari karya scni itu sendiri pada jamannya, melainkan dengan kriteria dari luar jaman karya scni itu. Biasanya kita menggunakan ukuran masa kini atau masa klasik untukmenilai karya seni primitif.

Gaya klasik scmula dimaksudkan ialah kesenian Yunani kuno. Di In­donesia kcsenian dan kesusastraan Hindhu dianggap klasik. Kadang-kadang kesusastraan melayu juga di scbut klasik. Ciri-ciri seni klasik adalah tenang, harmonis, symetris atau seimbang. Contoh: wayang kulit, patung dari jaman Hindhu dan sebagainya.

Lawan dari klasik ialah seni romantik, yang dengan sadar mengingkari keseimbangan klasik, bentuk teratur dan tradisional. Sedangkan romantik menyampingkan realitas dan mengikuti emosi, terutama cmosi yang dramatis dan tragis yang amat menarik. Para scniman romantik mengubah ralitas dengan berdasarkan fantasinya dan selanjutnya seolah-olah hidup di dalam impian.

Dengan demikian wajarlah para seniman romantik mencari obyek yang biasa merangsang fantasi-fantasinya dan bisa memeberi jalan untuk melahirkan rasa romantisnya. Pelukis romantis Indonesia yang terkenal adalah Basuki Abdullah dengan buah karyanya yang menawan penggemarnya.

Di Barat romantik berkembang pada bagian akhir abad ke 18 atau pada permulaan abad ke 19, bersamaan dengan aliran neo-klasik.

Neo-klasik adalah aliran yang berorientasi pada kcbcnaran dan kcindahan Recoco yang berkembang di Perancis pada pertcngahan abad kc 18 (*).

Apabila gaya rococo mcnccrminkan kchalusan dan pcrmainan cinta serta keingingan menghias tanpa tujuan tertentu, maka gaya neo-klasik ialah suatu jawaban terhadap kerinduan pada masa silam dari kcscnian negara tua. Ciri-cirinya:

1). mengagung-agungkan bentuk,

2). komposisi seimbang,

3). gerak tidak berlebih-lebihan,

4). warnanya dingin dan

5). obyek tentang sejarah dan mitologi

Contoh karya nco-klasik adalah karya-karya Jacques Louis David yang menunjukkan adanya kemahiran dalam anatomi dan kctclitian dalam membuat lipatan-lipatan kain serta penyusunan figur-figur secara scimbang.

Perbedaannya dengan corak Barok nampak jelas. Gaya Barok litik berat di scgala jurusan, tidak ada kescimbangan synctris. Warna dan sinar kontras dan scrba bcrgcrak. Ukuran tafril scrba besar. Sedangkan seni klasik, titik bcrat pada tengah-tengah lukisan, scimbang dan symetris. Karya korcvoor dan Hcsscling adalah salah satu contoh gaya Barok yang mempcrlihatkan bcrmacam-macam efck yang bcrgerak dengan kontras yang kuat sckali.

Sesudah gaya romantik, bcrturut-turut limbul rcalismc, im-presionisme dan ekspresioncsmc. Realismc dibedakan dengan naturalismc. Rcalismc tidak sepcrti halnya romantik yang hanyut pada cmosi individual, melainkan tingkah laku di dunia pada umumnya. Jadi tcrlctak pada arah kebenaran umum dalam hal ini kchidupan sosial. Di Barat karya Daumier adalah contoh yang baik unluk gaya rcalismc. Dan di Indonesia kita dapat menunjuk karya-karya Hcnk Ngantung yang menggambarkan kchidupan para pclani, b;:ruh dan nclayan dari tingkat kclompok sosial bawah.

(*) Gaya Racoco hanya dipakai dalam interior rumah (pintu, mebel, barang-barang kerajinan dan sebagainya) yang ditaati oleh pemakai ornamen yang berlebih-lebihan seperti motif sulur-sluran daun,

Apa yang telah di paparkan di alas scbagai gaya ralis yang berbeda dengan gaya natualis. Gaya naturalis sclalu mewujudkan sepcrti tcrlihat dalam alam. Dalam lukisan naturalis seniman menghubungkan hal-hal kecil scbanyak mungkin, membangun lukisan secara teliti dan tcrperinci dengan sclalu mcngulang supaya mirip dengan benda scsungguhnya secara foto grafis dengan mempcrhatikan bentuk maupun tekstur, reflcksi warna dari satu benda terhadap yang lain dan sebagainya. Contoh karya naturalis yang banyak adalah karya-karya Abdullah Suryo Subroto yang scnang melukis obyck-obyek pemandangan di sckitar gunung Merapi dan alam pegunungan yang indah.

Apabila aliran naluralis sangal leliti dalam melukis obyeknya, tidak demikian halnya dengan aliran imprcsionismc. Naturalisme mcnimbulkan kesan efck yang pcrmanen dan abadi, scdang imprcsionisme mcrupakan hasil dari pcrtumbuhan keadaan scpintas lalu serta pcrcobaan scketika. Im­prcsionismc menunjukkan kesan-kesan scketika atau scsaat dan tidak pcr­manen. Pclukis imprcsionismc tidak Iagi mcncliti dengan ccrmat bentuk-bentuk obyeknya.

3.Gaya imprcsionismc menggunakan bintik-bintik bersih dari warna-warni

Apabila warna yang diletakkan tcrpisah (bcrjajar) satu pcrsatu yang mcmperlinggi I keccmcrlangan warna terhadap yang lain. Hasilnya mclahirkan efck-efek yang menggctar pada mala pengamal. Contoh karya-karya im-i prcsionismc adalah karya-karya seniman : Monet, Manet, Vincent van Gogh |dan sebagainya. Di Indonesia karya Gusli Ngurah Gcde Pemccutan yang ibergaya pointilismc adalah salah salu contoh gaya impresionismc.

Apabila gaya imprcsionismc hanya menangkap kesan luar dari suatu Obyck yang dilukiskannya dengan warna cahaya yang mclclch, lain halnya dengan cksprcsionismc. Aliran ini mengulamakan (untuk dilukis) kesan llahi yang bcrsifat bathiniah. Melalui ekspresionisme, seniman sedang berusaha mengungkapkan pcrasaan yang biasanya ada, ialah sesualu yang nenyedihkan. Tidak ada sualu kemungkinan unluk mclihal lukisan-lukisan niacam ini, lanpa mcrasakan scsuatu dari konflik balhin yang menggcrakkan Jivva. Lukisan cksprcsionismc memaksa pengamal bcrfikir tentang bentuk fieri a dislori warna yang dipcrgunakan sebagai bahasa oleh pelukisnya. Contoh karya Vincent van Gogh dan El Greco. Di Indonesia karya-karya Affandi adalah contoh yang baik bagi gaya cksprcsionismc.

Pada aliran eksprcsionisme, seniman berusaha mengungkapkan kesadaran jiwanya yang dalam terhadap obycknya. Jadi corak cksprcsionismc ilu scsungguhnya mcnggambarkan bagaimana scsungguhnya pcrasaan jiwanya tcrhadap obycknya, bukan lagi mcngambarkan kesan rasan luar dari sualu obyck. Corak cksprcsionismc lcbih mcmcntingkan cksprcsi, yaitu pcrnyataan balhin yang sclalu tumbuh karcna dorongan akan mcnjclmakan pcrasaan atau buah pikiran . Pada corak ekspresionismc itu yang diutamakan adalah inti-sari atau hakekat, jadi soal “di dalam” atau ada juga yang mcngatakan soal “kejawaan”.

Oleh karena yang diungkapkan soal kejiwaan, scdangkan jiwa itu scsuatu yang abstrak, maka wujudnya ada kalanya abstrak. Corak eksporcsionismc inilah mcnjadi dasar scni modern dengan bebcrapa cabangnya sepcrti: kubisme, fauvismc, purismc, futurismc, dadaisme, sur-realisme, naif-primitifismc dan scbagainya.

Kubisme, adalah nama bagi suatu aliran dalam scni lukis dan seni pahat modern yang lahir pada tahun 1908. Aliran ini mula bcrtujuan untuk mempcrsahajakan benda-benda menjadi bentuk-bentuk geomctris, kemudian lcbih bcrcorak dekoratif dan non obyektif.

Penganjuran pcrtama adalah Pablo Picasso dan Brauquc. Karya Pablo Picasso yang bcrgaya kubisme yang tcrkcnal adalah lukisannya yang bcrjudul “Gucrnice” (1937). Scbcnarnya lukisan ini kombinasi gaya ekspresioonismc, surrcalismc dan kubisme. Lukisan ini adalah buah dari rcaksi kemarahan Picasso atas pengeboman scmcna:mcna olch angkatan udara Jerman atas Gucrnice yang sama sckali tidak dipcrtahankan secara milker.

Fauisme, adalah aliran dalam scni lukis yang bcrckspcrimcn dengan bcnluk. Karena kebebasannya mcnggambarkan bentuk, maka oleh pelukis tradisional disebut “pelukis liar” bahasa Pcrancis (fauvc = binatang liar), nama yang dikarang olch L. Fauxclles (1903). CIri-cirinya: warn anya kuat, sapuan-sapuannya lebar bcrjejer berdampingan dan pinggiran warna-war-nanya dilunakkan. Lahir dan berkembang pada tahun 1904 – 1909. Tokoh-tokohnya : Matisse, Drain dan Vlaminch.

Purisme, adalah aliran dalam seni lukis yang amat menyederhanakan elcmen-clemcn kontruksi dan sangat membatasi pemakaian warna. Bahkan dikatakan, purisme adalah pcngolahan lcbih lanjut tcrhdap kubisme. Tokoh-nya adalah Ozenfant.

I’ulurismc, sualu gcrakan sastrayangbcrcirakpolitik. Lahii pada lahun \’W) olch scorang Italia F.T. Marinclti dengan suatu manifes yang menganjurkan siOfat sportif dan pro tcrhadap scgala apa yang dapat memajukan tchnik dan keccpatan. Sebaliknya ia mencntang kepada apa yang masih berhubungan dengan waktu lalu. Anti terhadap sctiap sikap yang bcrdasarkan filsafat atau sikap hidup yang didapatkan secara intclcktualistis. Kchidupan seni rupa waktu itu sangat dipengaruhi, scbagai rcaksi tcrhadap akademismc yang mundur waklu itu di Italia.

Lukisan-lukisan futurismc mcngulamakan gcrak schingga lahir macam-macam gcrak dari suatu benda. Semuanya dilihat dari pangkal tolak motoris (gcrak). Pelukis futurist melukiskan benda-benda tidak lagi dari suatu tempat tcrtcntu, tetapi mcngumpulkan pecnangkapan kesan men-jadisatu gambaran atau kombinasi, fragmen dari pengamatan yang menggugah. Sclanjutnya mercka mclahirkan gerak dan kckuatan dan juga buah dan suara dari pada warna dan garis. Mcrcka mclemparkan jauh-jauh prinsip pcrspektif.

Dadaisme, adalah suatu gcrakan yang radikal sekali dikalangan pelukis dan pujangga-pujangga, yang menentang scgala macam kescnian yang telah diakui dan anli terhadap nilai-nilai tradisional.

Pcrkataan “dada” bcrasal dari bahasa Pcrancis, yaitu pcrkataan yang di ucapkan anak kecil baru belajar bcrkata-kata. Pcrkataan “dada” juga bcrarti “hobby” suatu pekcrjaan yang digemari. Gaya dadaiwme muncul sewaktu Pcrang Dunia I di Swiss dan mcngalami kemajuan dengan pesat sesudah tahun 1908, tcrutama di Pcrancis dan Jerman. Tokohnya di bidang seni lukis adalah Hans Arp.

Surrealisme, aliran unluk melukiskan suatu aktivitas jiwa manusia^ yakni aktivitas jiwa yang masih dalani kcadaan bcbas, yangbclum tcrkckang olch kaidah-kaidah logika, ctika, estctika dan scbagainya.

Jadi surrcalisme ini hendak melukiskan pcngalaman manusia secara scdalam-dalamnya. Aliran ini lahir scjak tcrbitnya manifes yang di tulis olch A. Breton (manifesto du surrcalismc) pada tahun 1942 dan memuneak an-tara tahun 1934 – 1938. Karya-karya yang tergolong surrcalis adalah buah karya : Savador Dali, M. Chagall dan Paul Klce.

Naif- Primitifismc, aliran dalam scni lukis yang sedcrhana kckanak- kanakan. (Naifarlinya = kekanak-kanakan; primitif artinya = sederhana). Aliran ini diikuli olch pclukis Henri Rousseau (1844 – 1910), Moris Utrillo dan Marval.

Corak dan gaya scni modern cksprcsionis tidak lerbatas oleh obyek-obyck tcrtcnlu. la dilcnlukan oleh sikap bathin si pcsiciplanya. la mclampaui batas ruang dan waklu.

Akibal daripada luasnya dacrah scni modern itn, maka variasi yang tcrdapat di dalamnyapun lidak tcrhingga pula jumlahnya schingga tidak mungkin unluk memasukkannya kc dalam sesuatu devinisi yang normal. Seni modern bcrkisar dari yang paling rcalislis sampai kepada yang paling abstrak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar